Gandeng Densus 88, Disdik Kalteng Gelar Sosialisasi Daring, Cegah Kekerasan dan Radikalisme di Kalangan Pelajar

Gandeng Densus 88, Disdik Kalteng Gelar Sosialisasi Daring, Cegah Kekerasan dan Radikalisme di Kalangan Pelajar

‎Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi juga harus disikapi dengan bijak. Seluruh peserta didik dan tenaga pendidik telah terdata dalam sistem pendidikan, sehingga penggunaan teknologi harus dijaga agar tidak menjerumuskan ke hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan.

‎“Saya berpesan kepada adik-adik semua, jaga hati, cintai orang tua, sayangi guru dan teman-teman di sekolah. Pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari kebodohan, kemiskinan, dan keterisolasian. Mari kita arahkan mindset ke hal-hal positif,” tuturnya.

‎Reza Prabowo juga mengajak seluruh keluarga besar pendidikan di Kalimantan Tengah untuk bersama-sama membangun daerah dengan semangat kebersamaan serta kewaspadaan terhadap pengaruh negatif, khususnya yang berkaitan dengan paham kekerasan dan ekstremisme.

‎Sementara itu, Katim Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88, Ganjar Satriyono, dalam paparannya menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial membawa dampak positif sekaligus negatif, terutama bagi anak-anak usia sekolah.

‎Ia mengungkapkan bahwa saat ini terdapat fenomena perekrutan anak-anak ke dalam kelompok kekerasan melalui media sosial dan permainan daring (game online). Menurutnya, game tidak sepenuhnya salah, namun sering dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk menanamkan paham kekerasan dan tindakan melanggar hukum.

Baca Juga :  Gubernur Agustiar Sabran Hadiri Upacara Sertijab Dansat Brimob Polda Kalteng

‎“Anak-anak direkrut melalui permainan online, kemudian diarahkan masuk ke grup-grup percakapan yang menormalisasi kekerasan. Ini sangat berbahaya karena anak-anak masih berada pada fase pencarian jati diri dan emosinya belum stabil,” jelasnya.

‎Ganjar juga menekankan pentingnya peran guru dalam mendampingi perkembangan psikologis peserta didik. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai orang tua, sahabat, dan tempat curhat bagi siswa, agar perubahan perilaku dapat terdeteksi sejak dini.

‎Menurutnya, banyak kasus kekerasan berawal dari anak yang menarik diri, mengalami perundungan, atau terlalu larut dalam dunia digital tanpa pengawasan. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan aparat sangat diperlukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

‎Melalui sosialisasi ini, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah bersama Densus 88 berharap seluruh peserta didik, tenaga pendidik, dan pemangku kepentingan pendidikan dapat lebih waspada, saling peduli, serta bersama-sama menjaga lingkungan sekolah agar tetap aman, nyaman, dan bebas dari pengaruh kekerasan, intoleransi, radikalisme, dan terorisme. (sumber : Disdik Kalteng)

You cannot copy content of this page