Plt. Sekda Buka Rakor Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Kalteng

Plt. Sekda Buka Rakor Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Kalteng

Ia juga menekankan pentingnya pemerataan pembangunan antarwilayah. Perbedaan basis pajak antar daerah menyebabkan ketimpangan, sehingga TKD menjadi tumpuan untuk mengurangi kesenjangan dan mendorong pemerataan ekonomi.

Lebih lanjut, Leo mengingatkan bahwa Kalteng diberi mandat sebagai Lumbung Pangan Nasional dan Pusat Konservasi Internasional, yang menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Tantangannya adalah bagaimana mendorong produksi pangan tanpa mengorbankan kawasan hutan, sementara revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalteng hingga kini belum disetujui.

“Kita dihadapkan pada dilema antara meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor ekstraktif seperti pertambangan dan perkebunan, dengan kewajiban menjaga lingkungan untuk mencapai target FOLU Net Sink 2030 dan Net Zero Emission 2060,” jelasnya.

Baca Juga :  Audiensi Balai Bahasa ke Diskominfosantik Kalteng untuk Pengutamaan Bahasa Negara

Dalam konteks pembangunan daerah, Leo juga menilai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) perlu dijadikan batu loncatan menuju industrialisasi, bukan sebagai tumpuan utama ekonomi jangka panjang. Ia menegaskan pentingnya hilirisasi dan pengembangan sektor manufaktur agar mampu menciptakan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja secara lebih luas.

Ia menutup arahannya dengan ajakan untuk mengoptimalkan potensi fiskal dan anggaran daerah yang mencapai sekitar 33,9 triliun rupiah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Dana Desa.

“Modal ini harus dikelola secara disiplin, sinergis, kolaboratif, dan inovatif agar benar-benar menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

You cannot copy content of this page